Senin, 12 September 2016

     “MAHASISWA CACAT MENTAL”
Berbicara mengenai cacat mental, mungkin orang akan berpikir tentang anak yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata atau anak yang memiliki kekurangan, baik secara fisik ataupun psikis. Namun konotasi cacat mental di sini bukanlah pada hal tersebut, coba kita jabarkan secara etimologi apa itu cacat dan mental itu apa?. Cacat itu sendiri merupakan kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutu yang kurang baik atau kurang sempurna (yang terdapat pada badan,benda,batin atau akhlak). Sedangkan untuk mental itu sendiri bersangkutan dengan batin dan watak manusia, bukan yang bersifat badan atau tenaga.  Dapat kita simpulkan bahwa cacat mental disini meliputi kurang sempurnanya watak (akhlak) manusia. Yang dimana “kekurangan” ini memiliki konotasi yang negatif serta cacat, jelas hal ini nyata terjadi pada mahasiswa. 

    Sebelum  jauh membongkar kecacatan mental mahasiswa, kita telusuri terlebih dahulu mahasiswa normal itu seperti apa. Mahasiswa ialah seseorang yang belajar di perguruan tinggi serta memiliki kedudukan yang paling tinggi dibandingakan dengan pelajar lainnya, baik itu SD,SMP,SMA. Dan itu lah pembeda mahasiswa, karena mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih besar dimana berorientasi untuk terjun dalam masyarakat serta diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Sejatinya, sebagai mahasiwa yang normal ia harus mampu berkontribusi dalam pmbangunan. Artinya pembangunan disini, ia memiliki kesadaran atas tanggung jawab dalam mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. 

      Mahasiswa yang diberkati dengan kemampuan berpikir normal, ia akan serta merta selalu berpikir kritis. Meskipun pemikiran kritis itu bisa saja suatu waktu berbuah dengan sebuah aksi, tidak selamanya aksi itu merupakan suatu hal yang sia-sia, karena dianggap tidak memiliki esensi hanya sensasi semata. Memiliki esensi atau tidak, itu tidak jadi soal. Tapi dengan jiwa dan cara berpikir kritisnya itu ia berhak menjadi seorang mahasiswa yang normal. Lalu seperti apa mahasiswa yang cacat mental itu? Mahasiswa cacat mental akan bertolak belakang dengan mahasiswa normal pada umumnya, mahasiswa yang cacat secara mental ia tidak mampu menjalankan peranan mahasiswa yang seutuhnya. Ketidakmampuan ini merupakan hasil dari apa yang ada pada dirinya (watak). Banyak faktor yang menjadikan mahasiswa yang asalnya normal secara mental menjadi cacat mental, akibat dari ketidaksiapan dirinya dalam menghadapi tekanan diluar sana. Tekanan ini, bisa dijabarkan dengan mudahnya masuk gangguan-gangguan jiwa yang merasuki dalam jiwa dan cara berpikir mereka melalui teknologi, dan lingkungan. 
Berbicara teknologi, kita sudah masuk dalam dunia serba mudah akibat teknologi. Tidak hanya itu, teknologi sendiri saat ini perkembangannya tidak hanya sebagai sebuah ilmu praktis mengenai hal-hal teknis, namun sudah berkembang menjadi salah satu pondasi ilmu pengetahuan ilmiah secara luas. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya bidang ilmu yang didasari oleh teknologi. Poerbahawadja Harahap menjelaskan bahwa penggunaan kata teknologi pada dasarnya mengacu pada sebuah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang cara kerja di dalam bidang teknik, serta mengacu pula pada ilmu pengetahuan yang digunakan dalam pabrik atau industri tertentu. Definisi ini tentu saja sangat mengacu pada definisi praktis dari teknologi, yang banyak ditemukan pada pabrik dan juga industri tertentu.

     Perkembangan  teknologi secara perlahan menjadi erosi terhadap mental mahasiswa, yang dimana teknologi ini mengkikis secara perlahan. Jelas, ini semua menjadi penyakit mental yang menyerang manusia dibalik keistimewaan teknologi yang canggih. Menurut survei perusahaan handphone asing, jumlah teknologi yang ada didunia ini jumlahnya bahkan melebihi dari jumlah manusia yang ada. Coba kita telusuri, hampir semua mahasiswa memiliki handphone dengan berbagai macam jenis. Bahkan jenis terbaru pun mereka miliki, tidak hanya satu handphone saja yang mereka punya, bahkan bisa sampai 2 handphone dari setiap orangnya.

     Teknologi mengubah gaya hidup manusia, termasuk didalamnya mereka para mahasiswa. Kecacatan mental yang menyerang mahasiswa melalui teknologi yaitu jiwa mereka yang lupa akan tanggungjawab mereka sebagai mahasiswa yang hanya mengedepankan gaya hidup yang didukung media sosial sebagai penunjang virus yang menyerang mental mahasiswa. 

    Gaya hidup hedonis membuat mahasiswa silau, hanya mengutamakan kesenangan dan hawa nafsu. Kehidupan mereka hanya untuk kesenangan tidak untuk berorientasi pada kehidupan selanjutnya yang menuntut mereka untuk terjun dalam kehidupan sebenarnya. Akibatnya, mereka tidak pernah menggunakan mental secara maksimal. Mental mereka hanya cukup dibenturkan untuk menerima sebuah kesenangan semata, lalu dimana mental mahasiswa sebagai pelajar yang memiliki mental normal. Terlalu dimanjakan dengan fasilitas yang ada, jarang membuat mereka berani untuk berpikir kritis. Mahasiswa akan menganggap remeh dalam berpikir kritis, boleh jadi mereka akan menolak untuk bisa peduli terhadap lingkungan sosial. 

       Mahasiswa tidak hanya mengidap cacat mental, melainkan mahasiswa pun terjangkit penyakit autis. Asik dengan dunianya sendiri, tidak pernah memperdulikan lingkungan sekitar. Bahkan dengan ke-autisannya, mahasiswa sudah merasa cukup untuk menjalani hidupnya tanpa pernah memikirkan bahwa ia bagian dari lingkungan. Kembali lagi kepada virus teknologi yang menyerang mahasiswa, virus tersebut akan menjalar pada jiwa mereka untuk bermental lemah. Mahasiswa akan mengidap rasa ketakutan apabila mereka ingin mengeksplore diri mereka, serba ketakutan tersebut diakibatkan dengan suguhan rasa nyaman dari teknologi. Sehingga dari rasa takut tersebut, kini berujung dengan sikap apatis. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa memiliki jiwa apatis? Apakah sudah siap seorang mahasiswa terjun dalam kehidupan selanjutnya, hanya berbekal jiwa apatis?. Sedangkan menurut Susantoro menyebutkan bahwa mahasiswa merupakan kalangan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang membutuhkan mental tinggi. 

    Setiap penyakit tentu pasti ada obatnya, meskipun penyembuhannya bisa secara cepat ataupun lambat dan itu tergantung pada tingkat kronis setiap penyakitnya. Begitu pula dengan mahasiswa pengidap cacat mental ini yang bisa disembuhkan, sejatinya cacat mental yang menjadi penyakit mahasiswa ini bisa digolongkan dengan dua tipe. Yang dimana ada yang bersifat bawaan, dan ada pula yang memang dipengaruhi faktor dari luar. B.F Skinner membedakan menjadi prilaku menjadi 2 jenis, yaitu :
Perilaku Alami  ( Innate Behavior)
Perilaku alami yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan.

Perilaku Operan (Operant Behavior)
Perilaku operan yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar yang dibentuk oleh faktor lingkungan dan melalui proses belajar. 

 Dapat begitu, bahwa mental seseorang yang memang sudah ditanam kuat sejak dini dapat meminimalisir serta dapat dijadikan sebagai filter ketika dibenturkan dengan berbagai pengaruh dari luar lingkungan. Namun tidak menutup kemungkinan, seseorang yang bermental normal dapt berubah menjadi cacat akibat dari proses belajar yang dibentuk oleh faktor lingkungan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar