Selasa, 18 Oktober 2016

Berani ber-KRITIK, berani ber-SOLUSI

BERANI ber-KRITIK, BERANI ber-SOLUSI

   Pengertian kritik secara umum adalah celaan atau kecaman atas suatu keadaan,perilaku, atau yang kita anggap menyimpang dan tidak benar. Memang, umum rasanya ketika mendengar kritikan dari seorang mahasiswa/i, apa saja bisa mereka kritik.

    Bahkan untuk hal kecil pun mereka dengan mudahnya bisa melontarkan sebuah kritikan. Berbagai macam cara mereka lakukan untuk menyuarakan kritikannya, dari hal yang biasa saja sampai kepada hal yang ekstrim. Mereka bisa memberikan kritikan dengan cara menulisnya dalam sebuah buletin lalu disebarluaskan ke massa. Selain itu orasi pun menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa untuk menyuarakan kritikannya. Apalagi tak sedikit diantaranya, mahasiswa hanya berani memberikan kritikan di media sosial tanpa bertemu dengan pihak yang bersangkutan. Kebanyakan bukan kritikan yang membangun, mereka hanya berfokus terhadap ktirikan yang berupa kecaman tanpa melibatkan solusi. Bukankah itu sebuah kritikan seorang pengecut? 

      Memang tidak ada yang salah dengan hal itu, perlu diacungkan jempol untuk mereka yang berani melakukan kritikan atas dasar pemikirannya yang kritis. Sekaligus kepeka-an mereka atas lingkungan sekitar. Lalu yang menjadi persoalannya yaitu ada pada kritikan mereka, tak banyak dari kritikan mereka yang hanya seputar omong kosong belaka. Bukan lagi sebuah kritikan membangun, tetapi lebih kepada menelisik sebuah kekurangan dan penghujatan. 

   Lalu, apakah para mahasiswa selalu menyelipkan solusi dalam setiap kritikannya? Atau kah tidak? Tidak perlu dijawab, cukup lakukan dan buktikan. Jika sahabat tidak hanya sekedar memberikan kritikan semata, tetapi mampu menyimpan solusi dalam setiap kritikannya. Sejatinya, itu jauh lebih baik. Yakinlah bahwa sahabat sebagai mahasiwa adalah generasi penerus bangsa. Di tangan-tangan kalianlah, segalanya bisa berubah, baik itu sebuah progresif yang baik ataupun justru sebaliknya. 

     Berapa banyak mahasiswa yang memberikan kritikan beserta solusi? Mungkin jumlahnya tidak begitu besar, maka dari itu mulailah pada diri sahabat. Untuk melakukan perubahan yang baik. Jadilah mahasiswa yang cerdas, selalu meyimpan solusi dibalik setiap kritikan. Kritikan yang baik menggunakan 3 cara, yang pertama tertuju kepada masalah yang akan di kritik. Setelah itu, kita bisa mengemukakan kritikan degan alasan-alasan yang kuat. Terakhir, bangunlah solusi pada kritikan tersebut. Artinya, mahasiswa mampu berkontribusi dalam setiap perubahan. 




3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. itu lah mengapa PMII mengajarkan kadernya untuk menjadi insan dengan paradigma kritis transformatif. tak hanya mengkritik namun juga solutif !

    BalasHapus
  3. status mahasiswa yang di cap sebagai insan intelektual harus menyadari itu.
    paradigma kritis transformatif harusnya dipahami insan akademis di semua perguruan tinggi.

    BalasHapus