Siapa yang tak kenal mereka, mahasiswa dengan rambut gondrongnya. Gayanya yang nyentrik, menjadi pusat perhatian publik. Tapi bukan itu yang ingin diperbincangkan, polemik hangat mengenai korban-korban yang berjatuhan. Tentu bukan korban bencana alam atau pun korban kecelakan, melainkan korban atas hak kepemilikan rambut gondrong.
Sebut saja fakultas X, yang melarang seluruh mahasiswa nya berambut gondrong. Dengan alasan, jika rambut pendek itu jauh lebih rapi dan sopan. Jika memang demikian , hal tersebut sama saja seperti pembunuhan hak. Soal penampilan saja dibuat repot, yang lebih parahnya lagi itu menyangkut soal akademik. Tak sedikit, mahasiswa gondrong yang nekat tidak mengikuti UTS/UAS hanya karena tidak ingin memotong rambutnya. Mereka mencoba mempertahankan kepemilikan atas rambut gondrongnya, yang dianggap sebagai aset dan ciri khas jati diri.
Menakjubkan sekali, ketika kita hanya duduk sebagai penonton melihat pertarungan antar kebijakan fakultas dan mahasiswa di dalam arena kampus. Cukup mengerikan memang, kebijakan kampus mampu meng-intervensi dalam urusan hak asasi mahasiswa. Siapa peduli? Kebijakan kampus sudah menjadi keputusan yang tak bisa diganggu gugat. Aturan tetap aturan , suka tidak suka mahasiswa dituntut patuh terhadap peraturan.
Sayangnya, kita sebagai mahasiswa hanya bagian dari miniatur fakultas. Sah-sah saja, jikalau dekan memainkan mahasiswa melalui kebijakan yang ia buat. Toh, dekan yang jadi dalangnya. Sesuka dia ingin memainkan mahasiswa dengan skenario apa saja. Tinggal pilih, kalian ingin tetap menjadi mainan dekan? Atau kalian ingin mensudahi semua drama kampus ini?
Keputusan dan tindakan ada ditangan kalian, namun perlu mahasiswa ingat. Ruang gerak kalian tetap dibatasi oleh aturan kampus, sekalipun mahasiswa berontak. Terkecuali, jika mahasiswa edan yang berani mengobrak-abrik birokrasi kampus. Jangan risau sahabat, Tajamnya gunting hanya memotong rambut kalian. BUKAN MEMOTONG AKAL KALIAN !
(Teruntuk sahabat, yang tengah menjadi korban mainan dekan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar